Dalam keseluruhan proses melatih dan membuktikan Dharma Buddha, praktisi awam yang berlatih di rumah—kecuali perlu berpantang dalam retret jangka pendek—kehidupan seksual yang normal dan teratur pada waktu-waktu lainnya tidak memengaruhi pembebasan akhir kita. Bagi praktisi yang berlatih di rumah, kehidupan seksual yang tidak harmonis juga menjadi titik fokus konflik rumah tangga. Di alam kebenaran hakiki tidak ada setitik debu pun yang melekat; di antara segala pintu praktik tidak ada satu dharma pun yang ditinggalkan. Sesungguhnya, kehidupan seksual yang sehat dan penuh cinta juga merupakan pintu masuk menuju Jalan. Ada praktisi yang merasa bosan dengan kehidupan seksual; sebenarnya ia sangat menekuni latihan sehingga hatinya tidak berada dalam cinta seksual, dan mengira hatinya berada di Jalan. Padahal, di manakah Jalan itu? Jalan justru berada pada momen saat ini! Jika Anda mampu menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam cinta, maka cinta seksual itu menjadi sebuah pintu Dharma. Mencintai dengan sepenuh hati dan sepenuh perhatian dapat memurnikan dan mengangkat hasrat batin Anda. Dengan dimurnikannya hasrat batin, seks berubah menjadi interaksi dan pertukaran dua energi, yin dan yang. Anda dan kekasih Anda dapat menjadi satu kesatuan cinta, tanpa keterpisahan; memasuki alam tanpa aku dan tanpa yang lain.
Alasan kita tidak dapat menjadikan hubungan seksual sebagai metode praktik spiritual hanyalah karena kita tidak mampu mencintai pasangan dengan sepenuh hati dan tanpa terbagi. Kita hanya ingin memiliki dan menikmati kesenangan serta rangsangan yang diberikan pasangan kepada kita; kehidupan seksual yang demikian bukan hanya tidak membantu praktik spiritual, melainkan juga lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi tubuh. Sebenarnya banyak di antara kita yang tidak mampu memenuhi tuntutan ini dalam hubungan seksual. Akan tetapi, jika Anda berlatih sebagai umat awam di rumah, kadang kita tidak dapat menghindari kehidupan seksual; dalam keadaan seperti itu, satu-satunya cara adalah berusaha sungguh-sungguh memusatkan diri pada cinta saat bersenggama. Jika Anda tidak dapat merasakan gairah, pikirkanlah kebaikan suami atau istri Anda sehari-hari, ingatlah saat-saat ia paling menggemaskan. Dengan begitu, hati Anda dipenuhi cinta dan pikiran tidak lagi terpusat pada organ seksual; biarkan hati rileks, sebisa mungkin dipenuhi kelembutan dan cinta, bukan dipenuhi nafsu untuk menyerang dan keinginan untuk memiliki. Dengan demikian, Anda menyatukan tubuh, ucapan, dan pikiran dengan suami atau istri Anda; tubuh saling melebur satu sama lain, sedangkan dalam batin, selain cinta, tidak ada konsep seksualitas apa pun. Maka dalam sekejap Anda akan mengalami tanpa-aku dan merasakan sukacita samadhi yang mendalam.
Dahulu, dalam waktu yang lama saya menolak kehidupan seksual; di alam bawah sadar saya menganggap bahwa hal itu akan menguras energi dan membocorkan esensi vital saya. Namun, dalam proses latihan dan pembuktian di kemudian hari, saya menyadari bahwa kebocoran yang sesungguhnya adalah kebocoran hati. Jika di dalam hati masih ada nafsu yang menyimpang — masih melamunkan hal-hal yang bukan-bukan saat melihat wanita cantik, masih memiliki keinginan birahi, masih senang menyenangkan lawan jenis di sekitar kita, masih ingin memiliki cinta lawan jenis, masih berharap semua wanita atau pria di dunia menyukai Anda, masih senang menciptakan suasana mesra yang ambigu, dan sebagainya — maka meskipun Anda tidak melakukan hubungan seksual (pada saat itu hati Anda sudah ternoda oleh nafsu birahi), yin sejati atau yang sejati di dalam diri Anda tetap bocor, bahkan lebih parah daripada kebocoran tubuh. Sebab kebocoran hati berarti mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran semuanya bocor — itulah kebocoran besar; kebocoran tubuh hanyalah kebocoran kecil. Jika tidak menjauhkan nafsu dalam hati dan hanya mengutamakan perilaku lahiriah, itu berarti meninggalkan akar dan mengejar ranting; belajar Buddha bagaikan memasak pasir menjadi bubur. Ketika hati Anda telah melampaui nafsu seksual dan nafsu emosional, barulah Anda benar-benar bebas dari kebocoran; pelampauan ini adalah sublimasi dari cinta sepenuh hati yang tunggal milik orang biasa menjadi cinta kasih universal. Cinta yang sepenuh hati (tanpa pikiran lain) bukanlah keterikatan yang membuta, bukan pula cinta bertepuk sebelah tangan; melainkan hati Anda sepenuhnya berada di sini dan saat ini (yakni hidup pada momen sekarang).